Pasis Dikreg LXVIII Seskoad Dorong Sinergi Lintas Sektor, Pencegahan Karhutla Jadi Prioritas

BATULICIN, radio-swarabersujud.com – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, tidak hanya mengandalkan pemerintah dan petugas pemadam kebakaran. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi salah satu langkah penting menekan risiko karhutla.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Aksi Talk Show Inspirasi Jumat di Radio Swara Bersujud (RSB) 89,8 FM dengan tema “Aksi Bersama Cegah Api, Demi Bumi Yang Lestari”, Jumat (6/11/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan tiga Perwira Siswa (Pasis) Dikreg LXVIII Seskoad Tahun Anggaran 2026, yakni Mayor Inf. Azhari Makmur, S.T., HAN, Mayor Cku Arsenius Fransiskus Martua Sirait, S.I.P, dan Kompol Antonius Trias Kuncorojati, S.H., S.I.K., M.H.

Dalam perbincangan tersebut, Mayor Inf. Azhari Makmur mengungkapkan bahwa berdasarkan data sementara yang dihimpun dalam bahan kajian, terdapat sekitar 274 kejadian karhutla dengan luas terdampak sekitar 900 hektare di Kabupaten Tanah Bumbu selama periode Juli hingga November 2026.

Ia menegaskan, angka tersebut masih perlu dicocokkan dengan data riil di lapangan. Meski demikian, kejadian kebakaran yang berulang dalam skala kecil tetap perlu menjadi perhatian karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Sementara itu, Mayor Cku Arsenius Fransiskus Martua Sirait menjelaskan, perbedaan data kejadian karhutla antara laporan petugas lapangan dan hasil pemantauan satelit dapat dipengaruhi metode pencatatan, periode pengamatan, definisi luas terbakar, serta tingkat deteksi. Karena itu, diperlukan verifikasi bersama agar langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Kompol Antonius Trias Kuncorojati menilai, kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Praktik tersebut kerap dipilih karena dianggap lebih murah, cepat, dan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Namun, kebiasaan tersebut memiliki risiko besar, terutama apabila dilakukan tanpa pengawasan dan di kawasan gambut. Api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga sulit dipadamkan meskipun kobaran di permukaan telah berhasil diatasi.

Menurutnya, pendekatan pencegahan tidak cukup hanya dengan memberikan larangan. Pemerintah dan pihak terkait juga perlu menghadirkan alternatif yang realistis bagi masyarakat, seperti bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk membuka lahan tanpa pembakaran.

Dukungan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat memperoleh fasilitas pembukaan lahan yang lebih aman.

Selain itu, ia mengusulkan adanya kolaborasi antara pemerintah daerah dan perusahaan melalui program Desa Bebas Api. Program tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk kompetisi antardesa dengan penilaian terhadap kegiatan patroli, sosialisasi, kesiapsiagaan, dan partisipasi masyarakat dalam mencegah karhutla.

Desa yang aktif menjaga wilayahnya dapat diberikan penghargaan berupa dukungan pembangunan maupun fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat.

Upaya lainnya dapat dilakukan melalui pembangunan sumur bor di kawasan rawan kebakaran. Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dapat menjadi salah satu sarana untuk mendukung ketersediaan sumber air bagi masyarakat dan petugas ketika terjadi kebakaran.

Para narasumber juga mendorong pemanfaatan lahan gambut produktif melalui budidaya tanaman yang sesuai dengan karakteristik tanah. Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan sektor pertanian, lahan dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus mendorong masyarakat menjaga kelembapan tanah.

Dalam hal deteksi dini, Mayor Cku Arsenius Fransiskus Martua Sirait mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan titik api, terutama ketika kebakaran masih berskala kecil. Masyarakat juga diminta mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan diri melakukan pemadaman apabila kondisi api sudah membahayakan.

Untuk masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, laporan keadaan darurat dapat disampaikan melalui layanan Call Center 112 yang disediakan pemerintah daerah. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan untuk melaporkan kejadian kebakaran maupun kondisi darurat lainnya dan dapat diakses secara gratis.

Ketiga narasumber turut mengapresiasi sinergi Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu bersama BPBD, Damkar, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, dan unsur masyarakat dalam penanganan karhutla. Mereka menilai koordinasi lintas sektor serta keberadaan layanan pengaduan darurat menjadi modal penting dalam memperkuat kesiapsiagaan daerah.

Pasis Dikreg 68 Seskoad Dorong Sinergi Lintas Sektor, Pencegahan Karhutla Harus Jadi Prioritas

Meski curah hujan mulai meningkat, masyarakat diminta tidak lengah. Pencegahan karhutla harus dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya ketika musim kemarau atau saat kebakaran mulai terjadi.

Melalui kegiatan penyuluhan tersebut, Pasis Dikreg 68 Seskoad berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga kejadian karhutla dapat ditekan pada tahun-tahun mendatang.

Penulis/Editor : Ardi Fitriansyah

Bagikan :

On Air Now

Loading current show...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *