BATULICIN, radio-swarabersujud.com – Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menegaskan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir melalui pelaksanaan prosesi adat Mappanre Ritasi’e Tahun 2026 yang digelar di wilayah pesisir Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Minggu (26/4/2026).
Sambutan Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Rusma Khazairin, menyampaikan pentingnya menjaga tradisi adat sebagai warisan leluhur yang sarat nilai spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam, khususnya laut.

Tradisi Mappanre Ritasi’e disebut sebagai simbol persatuan masyarakat pesisir, termasuk komunitas Bugis, yang hidup rukun dan harmonis di Kalimantan Selatan.
Dalam sambutan tersebut juga disampaikan apresiasi kepada masyarakat yang terus melestarikan tradisi, serta ajakan untuk menjaga ekosistem laut dengan menghindari praktik penangkapan ikan yang merusak dan mendukung upaya pelestarian lingkungan pesisir.
Sementara itu, Bupati Andi Rudi Latif diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Tanah Bumbu, Yulian Herawati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa prosesi adat ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil laut yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Kegiatan ini menjadi simbol keharmonisan antara manusia dan alam. Di tengah laut, masyarakat berkumpul, makan bersama tanpa sekat, mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan persatuan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan visi pembangunan Kabupaten Tanah Bumbu untuk mewujudkan daerah yang maju, makmur, dan beradab. Menurutnya, kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga budaya dan kearifan lokal.
Lebih lanjut disampaikan bahwa kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan, menjadi perhatian utama, dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan demi menjaga sumber daya laut bagi generasi mendatang.

Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus memberikan dukungan melalui pembangunan infrastruktur pesisir, peningkatan akses permodalan, penguatan kelembagaan nelayan, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Melalui momentum ini, seluruh elemen masyarakat diajak untuk mempererat persaudaraan, meningkatkan rasa syukur, serta memperkuat komitmen dalam menjaga kelestarian alam dan budaya warisan leluhur.
Selanjutnya dilakukan prosesi adat yang ditandai dengan arakan kapal hias ke tengah laut Pantai Pagatan dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan serta wujud syukur masyarakat pesisir.
Penulis/Editor : Ardi Fitriansyah


