Belum lama ini, aku berkunjung ke salah satu objek wisata alam andalan di Kalimantan Selatan, Pulau Kembang.
Kondisinya jauh berbeda dengan dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA.
Pulau Kembang terletak di Kabupaten Barito Kuala, tepatnya di Kecamatan Alalak, Desa Pulau Alalak. Pulau ini berada di tengah aliran Sungai Barito dan terkenal sebagai hutan wisata yang dihuni oleh banyak monyet.
Dulu setiap hari Minggu aku dan kawan-kawanku naik jukung (perahu, red) ke Pulau Kembang, hanya untuk melihat turis yang datang membawa makanan — terutama telur itu masak — dan diberikan kepada monyet-monyet yang ada di sana.
Turis yang datang kebanyakan dari etnis Tionghoa.
Selain itu, kami juga memetik buah rambai yang berjejer di depan Pulang Kembang.
Setelah puluhan tahun tidak berkunjung ke Pulau Kembang, aku sedikit kaget melihat kondisi tempat wisata itu, tidak ada peningkatan apapun. Malah lebih indah jaman dulu dibanding sekarang.
Kecuali ada tambahan bangunan beberapa buah di sana. Yang tidak berubah adalah keberadaan monyet-monyet di sana yang langsung mendekati pengunjung jika bawa makanan.
Bahkan, diantara monyet tersebut ada yang berani merampas ketika makanan berada ditangan pengunjung.
Misalnya Erdogan — yang baru duduk di TK — dirampas monyet kacang ditangannya. Setelah itu, monyetnya pun berlari.
Sementara Erdogan yang sebelumnya asik bermain dengan sejumlah monyet lainnya menangis, karena tangan mungilnya terkena terkaman monyet yang lain.
Meskipun Pulau Kembang memiliki daya tarik dari sisi alam dan satwanya, pengalaman yang kualami justru membuatku ragu untuk kembali ke sini, terutama bila ingin mengajak keluarga.
Pulau Kembang saat ini nampak kurang terurus, tempat arca saja sangat kotor, ditambah lagi plafonnya (penutup atap) rusak parah. Tidak ada perbaikan, tempat wisata yang satu ini kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat.
Lokasi wisata tersebut masih memerlukan banyak pembenahan.
Hartati Murdaya, salah satu pengunjung Pulau Kembang, ia menyoroti minimnya sistem pemandu yang seharusnya dapat membantu pengunjung memahami lingkungan sekitar, sekaligus menjaga interaksi aman dengan satwa liar seperti monyet ekor panjang yang hidup di sana.
Beberapa wisatawan membagikan pengalaman negatif, membuat mereka kapok untuk kembali, terutama saat membawa keluarga.
Keterbatasan fasilitas dan pengelolaan sistem pemandu yang dianggap kurang baik menjadi salah satu poin keluhan utama.
Kabarnya, dulu, pengelolaan objek wisata ini sering mendatangkan grup musik untuk hiburan, tetapi sekarang kegiatan tersebut jarang terdengar.
Selain itu, fasilitas seperti jembatan kayu yang perlu diperbaiki, serta kondisi lain yang kurang terjaga. Seperti tangga untuk naik ke dermaga Pulau Kembang perlu diperbaiki.
Tempat pintu masuk juga harus dibenahi sehingga lebih elegan.
Jika melihat kondisi sekarang, Pulang Kembang, nampaknya kurang terawat sehingga mengurangi minat wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung ke Pulau Kembang. SKR