BANJARMASIN, radio-swarabersujud.com – Sineas lokal asal Kabupaten Tanah Bumbu turut ambil bagian dalam program Banua Film Fund 2026 melalui film pendek berjudul Tamakan Dabu. Film produksi Layar Tanbu tersebut mengangkat kesenian tradisional Madihin sekaligus menyisipkan persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Film Tamakan Dabu menjadi salah satu dari lima film pendek karya sineas Kalimantan Selatan yang ditayangkan perdana dalam rangkaian Banua Film Fund 2026 di Bioskop Kota CineMall (KCM) Belda, Banjarmasin, Sabtu (31/10/2026).

Mengangkat cerita tentang seorang pemuda yang menderita batuk kronis, film ini menggambarkan perjuangannya untuk tetap mengikuti sebuah perlombaan kesenian Madihin. Bersama tiga orang temannya, ia harus menempuh perjalanan melalui jalanan yang dipenuhi debu dan kondisi jalan yang kurang baik.
Perjalanan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tokoh utama dan teman-temannya. Di balik cerita persahabatan dan perjuangan mengejar keinginan, film ini juga menghadirkan gambaran persoalan lingkungan, khususnya paparan debu jalanan yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.


Melalui cerita yang dikemas dalam film pendek, Layar Tanbu berupaya memperkenalkan kesenian Madihin sebagai salah satu warisan budaya Banjar kepada penonton, sekaligus mengangkat realitas kehidupan masyarakat melalui sudut pandang perfilman lokal.
Dalam proses produksinya, film Tamakan Dabu melibatkan sejumlah talenta perfilman daerah. Film ini diproduseri oleh Muzakkir Billah dengan Ray Fanathagama sebagai sutradara.

Adapun Syifa Asyafiq Zhorif S. A. bertugas sebagai Director of Photography (DoP), Hamid Amdal sebagai Art Director, serta Haylinaim sebagai Sound Manager. Sementara itu, Defriatama Kurnia Aji turut terlibat sebagai Camera Operator.
Keterlibatan para sineas tersebut menjadi bagian dari kolaborasi kreatif dalam menghadirkan cerita lokal ke dalam karya audiovisual yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Banua Film Fund 2026 sendiri merupakan program kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan bersama Forum Sineas Banua. Tahun ini, program tersebut mengusung tema “Merawat Warisan, Menuturkan Banua” dengan memberikan ruang bagi sineas lokal untuk mengembangkan ide cerita, memproduksi film, hingga memperkenalkan karya mereka kepada publik.
Kehadiran Tamakan Dabu menunjukkan bahwa film tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi media untuk merawat kesenian tradisional, menyampaikan realitas sosial, serta memperkenalkan identitas dan kehidupan masyarakat Tanah Bumbu melalui layar lebar.




